Postingan

Sebuah tanda

Perpisahan kala itu, Bukan hanya karena pertemuan kita dalam waktu yang salah, namun karena segala rasa yang tak lagi searah. Kau terluka karena keputusanku,dan Aku berlinang air mata karena ulahmu. Seingatku, saat itu langit sedang dihiasi purnama. Kufikir, kita akan kembali berbahagia. Namun ternyata aku terlalu percaya pada praduga. Kau malah semakin dalam menikam, sementara aku masih diam. Kau terus beralasan untuk menutupi kesalahan, sementara hatiku sudah menjerit kesakitan. Pada akhirnya, perpisahan adalah satu satunya cara untuk mengobati lukamu, semoga saja kau dapat menemukan seseorang yang kau inginkan sesuai nafsumu itu. Karena eksistensiku, selalu kau anggap sekat orang orang yang akan mendekat. Aku terlalu sayang padamu, sampai sampai aku rela melepasmu karena aku bukan seseorang yang masuk kedalam kategorimu, aku hanya ingin kau bahagia dengan dia yang kau anggap selalu ada. Dan perihal mataku yang lebam karena tangisan, biarlah tak usah kau fikirkan. Hiraukan s...

Hayalan

Saat itu mentari sedang bersandar pada bahu mega, mataku sayu binar senja. Dari kejauhan, kutatap sepasang remaja yang sedang menikmati nuansa. Mereka saling berpelukan, sesekali saling menertawakan aku yang dibantai kesendirian. Andai saja, saat itu kau berada disampingku. Mungkin kita akan menjadi best coupl e yang menghabiskan sore berdua, menatap senja hingga menua. Andai saja, jarak ini tidak membentengi kita. Mungkin kita akan selalu menghabiskan waktu berdua, menjalin kisah romantika yang kelak akan menjadi cerita indah pada anak anak kita. Ah, sayangnya itu hanya hayalan. Kau yang jauh disana tidak bisa kupeluk secara nyata, tidak bisa kubelai manja. Sayang, apa kabar kamu disana ? Apakah kamu baik baik saja ? Sayang, aku merindukanmu ? Apakah kamu juga ? Sayang, cepatlah kemari. Aku menunggu disini. Bahkan kicauan burungpun memanggilmu untuk cepat datang ke pelukanku. Sayang, apakah kau rela melihat kekasihmu dicaci keheningan, dan setiap malam harus berkencan dengan h...

Untukmu

Setelah perkenalan kita kala itu, Jujur saja, aku telah menaruh hati padamu. Sebagaimana tumbuhan, perasaan ini tumbuh perlahan. Berawal dari benih perkenalan, yang kusirami dengan bait bait harapan, kurawat dan kujaga dengan kasih sayang, lantas tumbuh menjadi besar dan berbuah keinginan. Ingin untuk menjalin kasih denganmu, Ingin menjadi sepasang arti denganmu, Ingin engkau, melengkapi separuh agamaku. Namun, kusadari hal itu terlalu jauh untuk kita, rintangannya terlalu berat untuk kita. Pada akhirnya, kau hanya bisa kujaga melalui bait bait doa. Karena apa daya aku yang belum bisa berada disampingmu. Semoga saja Tuhan mengirim malaikat-Nya untuk menjagamu. Dan untukmu yang kini bermuara dalam doa, yang kusembunyikan dalam semoga. Ketahuilah, bahwa namamu belum pernah kutulis dalam buku harianku, Namun kucoba mengukirnya di lauhul mahfudzku.

Tentang jatuh cinta

Perihal perasaan, aku tak tahu kapan datang, dan mengapa bisa datang. Namun ketahuilah, bahwa semuanya berawal dari pesan pesan singkat kita melalui sosial media, kenyamanan pun berperan serta sebagaimana sungai yang mengalir. Rasa nyamanpun ikut terbawa arus yang lantas bermuara pada rasa cinta. Dan pada malam itu, disudut kota. Awal mula kita berjumpa, awal mula kita saling melempar tatap. Dan lagi lagi aku dibuat kaku oleh sikap dinginmu. Akupun tidak ingin menunggu waktu lama, saat itu juga kucurahkan semuanya. Bahwa sedari pertama aku mengenalmu, berbincang denganmu, dan bertukar curahan denganmu. Padamu, aku telah jatuh hati dan berharap menjadi sepasang arti. Namun perihal rasa aku tidak akan memaksa. Hanya saja aku ingin kau mengerti, bahwa mengumpulkan keberanian untuk menyatakan bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kau bertanya, mengapa bisa aku jatuh hati padamu, padahal sebelumnya kita tidak saling mengenal, tidak pernah saling bertatap apalagi bercakap. Aku pun menyadar...

Ketentuan

Entah ada apa tentang kisah kita dulu. Kau tahu, bahwa hingga kini aku sulit memulai kisah baru, meski hanya sekedar membuka hati, ah rasanya aku tidak bisa. Padahal, tidak ada yang istimewa tentang romantika kita. Hanya saja, aku selalu teringat dengan senja disudut kota yang kita nikmati berdua. Namun, ini bukan hanya perihal senja. Akan tetapi juga tentang aku, yang masih saja tidak bisa menerima segala kecewa. Apakah keputusanku untuk pergi itu salah ? Namun aku sudah lelah dengan segala caramu berlaku lampah. Aku menyerah dengan keadaan yang memaksaku untuk pergi. Itu semua karenamu yang selalu menyakiti, tanpa kau rasakan penderitaanku selama ini, tanpa kau sadari perjuangan ku ini. Tapi apa, aku tidak seegois itu. Mungkin Tuhan tidak menuliskankan namamu dalam skenario hidupku. Sekalipun mungkin aku itu salah Aku percaya suatu saat kekuasaan-Nya akan mempertemukan kita dengan cara yang berbeda, dalam waktu yang lama.

Dariku

Tanpa kau minta, aku akan pergi dengan sukarela, menjauh dari hidupmu yang kau anggap hadirku hanya membawa keruh. Dan untuk segala rasa yang pernah ada, biarlah perlahan lenyap termakan usia. Aku akan baik baik saja, selama kau berbahagia. Kau tahu, Caramu yang pergi terlalu cepat, adalah cara Tuhan memberi tahuku bahwa kau bukan orang yang tepat. Biarlah, setidaknya kita pernah belajar bagaimana untuk saling membahagiakan, untuk saling mengerti, untuk saling membunuh ego, untuk saling bertahan. Semoga hal itu juga kamu lakukan pada seseorang yang kini hadir dihidupmu. Semoga saja dia turut mengamini segala doamu, bukan untuk hari ini saja, tapi hingga kalian menua. Dariku, Selamat berbahagia dengan diamu yang baru. Biarkan aku tetap melebarkan senyum ketika melihat kalian melepas tawa dibawah redupnya sinar senja.

Kesungguhan

Kini aku tahu, Perihal maaf yang pernah kau ucap, Perihal rasa sayang yang kau buang. Mengapa kau tidak bilang dari dulu, bahwa aku ini hanya kau butuhkan saat kau perlu. Jadi aku tidak perlu repot repot untuk terus berjuang, tidak perlu repot repot bertahan tanpa alasan. Kufikir kau ini sungguh, ternyata kau tidak menerimaku dengan seluruh. Setelah kau menemukan orang yang baru, dengan seenaknya kau pergi tanpa permisi. Namun ingatlah satu hal ini, bahwa sampai saat ini aku tidak bisa membencimu, meskipun kau sudah memporak porandakan duniaku,dan menanam benih luka dihatiku. Tetap saja, aku tidak bisa membencimu. Bahkan jika dia yang sekarang bersamamu nanti menyakitimu, aku rela menjadi tempatmu bersaksi derita, menjadi wadah untuk genangan air mata, dan juga menjadi penghibur atas segala duka lara. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa disini. Aku menunggumu kembali.