Untukmu
Setelah perkenalan kita kala itu,
Jujur saja, aku telah menaruh hati padamu.
Sebagaimana tumbuhan, perasaan ini tumbuh perlahan.
Berawal dari benih perkenalan, yang kusirami dengan bait bait harapan, kurawat dan kujaga dengan kasih sayang, lantas tumbuh menjadi besar dan berbuah keinginan.
Ingin untuk menjalin kasih denganmu,
Ingin menjadi sepasang arti denganmu,
Ingin engkau, melengkapi separuh agamaku.
Namun, kusadari hal itu terlalu jauh untuk kita, rintangannya terlalu berat untuk kita.
Pada akhirnya, kau hanya bisa kujaga melalui bait bait doa.
Karena apa daya aku yang belum bisa berada disampingmu.
Semoga saja Tuhan mengirim malaikat-Nya untuk menjagamu.
Dan untukmu yang kini bermuara dalam doa, yang kusembunyikan dalam semoga.
Ketahuilah, bahwa namamu belum pernah kutulis dalam buku harianku,
Namun kucoba mengukirnya di lauhul mahfudzku.
Komentar
Posting Komentar